Jumat, 30 Mei 2014

Perkembangan Topeng Blantek


Untuk dapat dilestarikan dan dinikmati oleh masyarakat luas, Topeng Blantek mengikuti perkembangan pada zamannya. Maka dari itu, tidak luput dalam mengembangkan kesenian Topeng Blantek, kesenian ini harus memiliki pakem-pakem dan ciri khas yang dapat dikenal oleh banyak masyarakat luas dan berkembang tanpa harus menghilangkan pakem-pakem yang sudah dibuat oleh para senimannya. Permainan tokoh Jantuk dalam Topeng Blantek merupakan gaya permainan tokoh Jantuk dalam pertunjukan Topeng Blantek tersebut. Bagaimana seorang penulis mendeskripsikan bentuk permainan tokoh Jantuk dalam Topeng Blantek melalui penelitian secara langsung, yaitu dengan mewawancara seniman Topeng Blantek, observasi proses latihan Topeng Blantek sebelum dipentaskan hingga pada saat pementasan berlangsung. Hingga mengetahui bentuk Topeng Blantek dan bagaimana para pelaku seniman Topeng Blantek mementaskan pertunjukannya.(aj/ziz)

Meditasi Topeng Blantek


Meditasi juga merupakan hal terpenting dan pendukung dalam metode akting tokoh Jantuk, karena tokoh Jantuk tersebut seperti halnya seorang sutradara yang memimpin adegan dalam cerita Topeng Blantek. Meditasi ini bukanlah meditasi hal yang gaib dan sakral, Namun, meditasi ini dilakukan untuk mengingat adegan dari cerita Topeng Blantek tersebut. Tidak semua grup Topeng Blantek melakukan meditasi ini. Namun, ditemukan metode tersendiri melakukan meditasi yang berguna untuk mengingat keseluruhan adegan Topeng Blantek tersebut. Misalnya setelah grup Topeng Blantek melakukan latihan, sebagai pemeran yang sering memerankan tokoh Jantuk, harus selalu mengingat-ingat adegan, bahkan dialog dari para pemain.(aj/ziz)

Pertunjukan Topeng Blantek


Sering kali tokoh Jantuk berperan sebagai tokoh lain. Misalnya, pada saat pembukaan pertunjukan Topeng Blantek diawali oleh tokoh Jantuk sebagai Jantuk tetapi saat berjalannya cerita pemeran yang sebelumnya bermain sebagai Jantuk dapat berganti peran lain. Biasanya peran yang lain tersebut merupakan peran yang terpenting, misalnya menjadi peran Bapak yang memegang cerita tersebut. Namun, pada saat menjadi Jantuk pemeran tersebut kembali menggunakan Topeng Jantuk dan pada saat berganti peran pemeran Jantuk membuka topengnya, maka pemeran Jantuk tidak lagi berperan sebagai tokoh Jantuk. Tokoh Jantuk dapat berperan sebagai peran lain apabila kurangnya pemain dalam grup Topeng Blantek tersebut. Apabila Tokoh Jantuk berperan sebagai peran lain, peran tersebut pun harus peran yang penting, misalnya peran sebagai Bapak dan seorang anak yang berperan penting dalam cerita Topeng Blantek tersebut.(aj/ziz)

Olah Tubuh Topeng Blantek


Tokoh Jantuk memiliki karakter yang jenaka, dalam karakter tersebut tokoh Jantuk memiliki tubuh yang hiperaktif. Tokoh Jantuk juga memiliki gestur dan gerakan tubuh yang lentur. Agar lebih terlihat jenaka dengan gerak-gerik gesturnya, maka seorang aktor harus menguasai olah tubuh untuk menjadi tokoh Jantuk. Namun, sebelum mengenal metode olah tubuh, gerakan tersebut terjadi dengan sendirinya. Seorang aktor menguasai dengan sendirinya untuk menjadi tokoh Jantuk dengan penafsiran dan analisis dari seniornya yang akan diturunkan kepada juniornya.  Olah tubuh sering kali dilatih pada saat sebelum latihan Topeng Blantek. Bukan hanya aktor teater modern atau teater barat saja yang melatih metode olah tubuh. Tetapi aktor para seniman teater tradisi juga mengenal olah tubuh semenjak Topeng Blantek menjadi sebuah pertunjukan yang ditonton. Karena pada mulanya seorang aktor pun harus memiliki tubuh yang sehat untuk bisa beraksi dalam pertunjukan. Gerakan tubuh dan gestur merupakan hal yang terpentmg pada tokoh Jantuk yang hiper aktif dan energik, karena pada bagian tubuh tokoh Jantuklah yang mengeluarkan ekspresi yang kuat. (aj/ziz)

Media Ekspresi Topeng Blantek


Keluar masuk peran bisa terjadi kapan saja pemain mau, apabila pada situasi tertentu pemain dapat menghidupkan cerita tersebut dengan metode keluar masuk peran tersebut. Misalnya ketika seorang tokoh Jantuk menggunakan Topengnya, maka tokoh Jantuk tersebut sedang berperan menjadi tokoh Jantuk, namun ketika tokoh Jantuk tidak menggunakan topengnya maka tokoh Jantuk sudah berperan sebagai tokoh lain, misalnya menjadi tokoh Bapak, atau tokoh yang terpenting dalam cerita tersebut. Media Ekpresi Yang Digunakan Tokoh Jantuk tentunya menggunakan media ekspresi berbentuk Topeng Jantuk. Dalam Topeng Blantek tokoh Jantuk diharuskan menggunakan topeng berkarakter tokoh Jantuk. Tokoh yang harus menggunakan topeng dalam Topeng Blantek adalah tokoh Jantuk. Ketika pertunjukan dimulai, tokoh Jantuk sebagai pembuka narasi Topeng Blantek menggunakan topeng, namun pada saat cerita pertunjukan berjalan, pemeran Jantuk dapat membuka Topengnya dan dapat berperan sebagai tokoh lain dengan tanpa menggunakan Topeng Jantuk. (aj/ziz)

Interaksi Topeng Blantek


Interaksi merupakan suatujenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek sam sama lain. Ide efek dua arah mi penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dan hubungan satu arah pada sebab akibat.Kombinasi dan interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Pertunjukan teater rakyat, terutama Topeng Blantek, melakukan interaksi kepada penonton merupakan tradisi yang biasa terjadi dalam pertunjukan Topeng Blantek. Interaksi yang terjadi yang dimaksud yaitu apabila Tokoh Jantuk dan pemain mengeluarkan dialog yang direspon oleh penonton secara spontanitas hingga menimbulkan topik yang baru, dan bahkan seorang pemusik bisa ikut berinteraksi kepada tokoh Jantuk dan pemain lainnya, apabila adegan tersebut mengundang dialog untuk berinteraksi. Dalam Topeng Blantek interaksi terjadi apabila ada sebab dan akibat, terjadi secara spontanitas, mengundang reaksi, bahkan menimbulkan pertanyaan kepada tokoh Jantuk dan pemain. (aj/ziz)